Ironis. MTA ditolak umat Islam sendiri.

Peresmian Gedung MTA oleh Presiden RI
Tidak tahan juga membaca media yang memuat tentang penolakan MTA (Majelis Tafsir Al-Quran) di beberapa daerah. Saya merasa harus menulis untuk melampiaskan uneg-uneg yang ada di hati.

Salah satunya adalah yang ada di media cybernews suaramerdeka yang memuat tentang penolakan MTA hanya gara-gara warga MTA membangun sebuah gedung untuk pengajian umum di daerah tersebut.

Sungguh ironis. Sesuatu yang baik dan bahkan mengupas dan mengkaji Al-Quran kitab kita sendiri ditolak mentah mentah oleh oknum yang tidak menyukai MTA. Tapi perjudian dan pelacuran tetap aja jalan, gak ada yang melarang. Mau jadi apa umat muslim sekarang kalo membahas Al-Quran saja dianggap sesuatu yang tabu? Gak kebalik apa tu otak ya? Sungguh aneh. Dan lebih mengherankan lagi adalah mereka menyalahkan MTA tanpa tahu apa itu MTA.

Minggu lalu saya menghadiri acara pernikahan adik sepupu di desa tempat bokap lahir dan dibesarkan. Gak disangka ternyata adik ipar neh tinggalnya di Solo dan hanya berjarak 10 menit berjalan kaki ke Gedung MTA pusat. Tak ayal, saya yang demen mengikuti pengajian MTA lewat internet dan terkadang radio parabola langsung sumringah dan bertanya tanya bagaimana MTA di sana. Namun itu hanya berlangsung sebentar saja. Manakala ia menjelaskan bahwa MTA menghalalkan anjing, tidak membaca basmalah ketika menyembelih dan lain sebagainya yang benar benar bikin saya terkejut. Bukan saya saja yang bereaksi seperti itu. Namun keluarga saya pun terkaget kaget. 

Nyokap bilang begini :
"Saya yang bukan orang MTA saja tidak pernah mendengar MTA seperti itu."
Kebetulan nyokap lebih pro ke NW (Nahdatul Wathan) , yaaah.. mirip lah dengan NU. NW lebih besar pengaruhnya di Lombok NTB, Apalagi gubernur kami merupakan anak dari pendiri NW. Salah satu produk terdahsyat NW adalah Hiziban yang merupakan kumpulan doa dari Al-Quran.

MTA adalah inovasi baru cara berdakwah umat muslim. Kita tahu sendiri bahwa umat Islam tidak memiliki puncak pimpinan lagi seperti orang Kristen yang hingga saat ini masih memiliki Paus Paulus. Sehingga banyak nama-nama yayasan maupun pengajian berkembang pesat di Indonesia. Ada yang membahas tentang Quran itu sendiri, ada yang membahas tentang alam Ghaib dan lain sebagainya. Dari yang masuk akal hingga yang tidak masuk di akal dan terpaksa harus mempercayai.

MTA adalah salah satu pengajian diantara banyak pengajian yang lain yang membahas tentang Al-Quran yang ketika ini dilemparkan ke masyarakat muslim kebanyakan menjadi asing karena kita sendiri sebagai muslim terlanjur mengikuti ajaran-ajaran keislaman secara general alias umum.

Lalu kenapa hanya MTA yang disorot? Dianggap aliran sesat? Padalah banyak pengajian lain yang sejenis, dan sudah umum di kalangan masyarakat yang membahas Al-Quran? Apakah karena pesatnya pengajian mereka dengan beragam cara, dengan menggunakan teknologi lalu yang lain merasa tersaingi? Padahal MTA tidak sama sekali bermaksud menyinggung pengajian-pengajian yang lain. MTA hanya memaparkan Al-Quran disertai hadits hadits yang notabene itulah sumber dari Islam. Itulah yang ditinggalkan oleh nabi kita, dimana Al-Quran dan Al-Hadits adalah darah daging dari umat muslim itu sendiri. Keasliannya, keotentikannya, tidak dapat diragukan lagi, satu huruf aja yang salah maka segera Al-Quran akan dikembalikan seperti semula karena penghafal Al-Quran sudah tidak terhitung jumlahnya sehingga kesalahan dapam penulisan dapat segera dideteksi.

Al-Hadits juga demikian, pembukuan tentang hal ini sudah dilakukan oleh para ulama kita yang terdahulu, sehingga dapat kita bandingkan antara satu hadits dengan hadits lain dan dapat diambil mana yang paling sahih (benar) diantara hadits tersebut.

Lalu mengapa MTA ditolak mentah-mentah di beberapa daerah?
Itulah kelebihannya MTA, ibarat seorang artis, eksis di dunia entertainment ya harus banyak yang gosipin. Tapi MTA tak pernah mau digosipin, hanya saja yang mendengar kebenaran dari Al-Quran kemudian merasa tersinggung dengan kebenaran itulah yang bikin orang gak suka dengan MTA lalu bergosip yang tidak-tidak.

Ingat. MTA bukanlah satu-satunya majelis yang membahas tentang hal yang sama. Banyak lagi pengajian lain yang memiliki misi sejenis. Ketika anda mulai membenci MTA maka itu artinya anda juga membenci kebenaran. MTA tidak sempurna, maka dari itulah kemudian MTA menerima kritik dan saran dalam metode pengajian mereka. Inilah poin dari MTA sehingga pengajian mereka menjadi melesat bagai anak panah di beberapa tahun terakhir ini.

17 Comment:

Poskan Komentar

My Tutorial

Loading...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More