Untuk apa sih kita diciptakan?

Huaaaww... Dah hampir setahun vakum menulis disni, yah, kebanyakan lagi ngisi blog satunya. Jadi rindu menulis kalimat demi kalimat penggalan kisah hidup yang mungkin bisa jadi inspirasi yang lagi search google dan gak sengaja klik menuju link blog saya ini.

Nah, pernah gak ngerasain gimana rasanya menjadi seorang muallaf?
Bagi saya yang Islam nya memang sudah dari keluarga, mungkin akan mencoba cari tahu. Kenapa? Karena yang saya rasakan lebih ke doktrin atau lebih ke pengarahan. Jalankan apa yang sudah ditetapkan dan jangan banyak tanya. Kalo pun bertanya pasti dibawa muter muter. Jadi kesimpulan saya kemungkinan adalah Islam KTP, aka Islam Sholat tapi khusyuk itu susah dicari, kenapa? Karena cuman beragama tapi gak tau apa fungsi agama itu sendiri.

Well, guys this story is my opinion. Kekurangan pada tulisan ini semata karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, Insha Allah saya terus memperdalam.

Allah (Saya menyebut Allah) punya jalan tersendiri membuat hentakan kepada manusia supaya berusaha mencari tahu tentang apa tujuan kita diciptakan. Kebanyakan melalui proses sulit, hampir mati mungkin, kemiskinan, kekayaan yang tidak membawa kebahagiaan, wanita pujaan yang tak kesampaian, lelaki idaman, barang idaman, cacat fisik, orang tua yang tak tahu dimana, dll.. Kebanyakan kisah para muallaf seperti itulah yang saya dengar.

Kita gak pernah menyadari itu, mungkin bukan kita tapi "saya" tak pernah menyadari bahwa tujuan kita diciptakan memang tak perlu difikirkan. Artinya just do it. Atau lakukan apa yang diperintahkan, jauhi segala kemungkaran. Semuanya sudah saya ketahui tapi tahu bukan berarti mengerti. Bahkan malaikat pun bertanya, dan Allah menjawabnya langsung.

Ketika kita mereferensikan nya kepada Al-Quran, maka tujuan kita di bumi ini adalah untuk beribadah. Hmm, yang itu sih saya dah tahu. Ada yang bisa meyakinkan lagi gak jawabannya?

Saya kemudian mencari cara supaya bisa lebih pas jawabannya, maka secara naluri saya harus mencari jawabannya kepada orang yang belum pernah mengenal Islam sama sekali, paling pas sih dari seorang atheist, karena mereka biasanya belum terkontaminasi oleh kultural, oleh budaya, dan biasanya mereka orang pinter, ber IQ tinggi, aka jenius. Yang bisa bertanya se-enak perutnya, tanpa harus terbebani oleh ketakutan bertanya hal-hal yang masih dianggap tabu.

Masalahnya kebanyakan atheist saat ini "sedang" dalam masa atheist mereka, jawabannya pasti ke quantum mekanik yah apa lah gitu saya juga gak mudeng yang ujung-ujungnya jadi flying spagetti monster dengan penutup ramen. Mereka akan mencoba untuk menjadi konsisten pada pandangan mereka, lalu ketika terdesak akan menjadi tidak konsisten. Dan ini kebanyakan atheist akan mengalaminya, dimana hal itu menjadi celah bahwa cara pandang mereka tentang ilmu pengetahuan masih ada ruang yang bolong, masih ada rasa bingung yang harus ditutupi dengan kata "menyerah", yah, menyerah akan ke Esa an Allah.

Ketemu video kalo gak salah namanay "Jeffery Lang" silakan ke youtube search sendiri, disitu adalah sesuatu yang "waww" menurut saya. Incredible. Pas dengan apa-apa yang disampaikan oleh para syeikh, bahwa memang untuk mengerti ini kita harus membaca Al-Quran dengan penuh pengertian.

Kita harus membaca dan mengerti dulu asal usul kita barulah kita akan mengerti lebih mendalam apa yang sedang kita lakukan di dunia ini, ketimbang bertanya untuk apa manusia diciptakan disini di dunia ini karena memang keterbatasan kita untuk mengerti.

Pada saat kita diciptakan, manusia diberikan "Intelegensi" yaitu kemampuan belajar, kemampuan memilih sesuatu semisal memilih ini baik dan itu buruk, dan kesengsaraan.

Jadi hidup di dunia ini, kita akan sengsara, diuji sampai habis air mata, sampai berdara-darah, sampai batas kemampuan akhir kita, yang akan menimpa semua umat manusia di dunia ini, gak peduli dia orang alim, atau kafir. Kita akan sengsara di dunia ini, jadi kalo kita memilih kebahagian di dunia, maka kita salah, karena hanya kekecewaan yang akan kita dapatkan, semakin kita mengeluh semakin berat kesengsaraan demi kesengsaraan yang akan diberikan kepada kita yang sebenarnya adalah ujian dari Allah.

Lalu rewardnya tentu saja Surga bagi orang yang lulus, kapan lulusnya? Saya rasa ketika nama kita terukir di batu nisan sampai hari pengumuman kelulusan.

Itulah yang menjadi kelitikan dalam perdebatan panjang batin saya selama ini, kok Allah selalu begini, kok Allah jahat, kok Allah gak mengabulkan doa, kalo doanya disimpen buat nanti di akhirat ya percuma donk saya doa, lah wong maunya bahagia dunia dan akhirat, tapi malah sengsara mulu di dunia ini.

Pertanyaan seperti itu akan terjadi banyak di kalangan anak muda kita bahkan kepada saya sekalipun. Well guys, kita kan hidup penuh dengan ujian. Tapi ini bukan sembarang ujian, ini adalah ujian yang nyata, bukan game yang bisa di restart kalo dah game over kita akan mencoba lagi, bukan. Ini game beneran, ini Live, ini hidup, tapi wenaknya hidup ini kita dikasi banyak pelajaran tiap hari, tiap detik dalam kehidupan kita.

Sehingga kita yang berfikir demikian akan terus menggali dan menggali, mencoba untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah dimana hari ini harus lebih baik dari kemarin, ujian yang ini saya harus lebih oke lagi dan gak mengganggu saya lagi, bahwa ujian-ujian seberat apapun yang Allah berikan merupakan sebuah test iman, test bahwa saya bisa mengalahkan nafsu, mengalahkan bujukan setan Iblis yang dendam kepada anak cucu Adam.

Untuk apa kita diciptakan? Hanya Allah yang tahu. Kita hanya berkewajiban, mengerjakan perintah Allah, dan menjauhi larangan Allah. Mempelajari dari pengalaman orang lain karena kita diberikan intelegensia untuk belajar dari umat-umat terdahulu, dan belajar dari tetangga, teman, sahabat dan menggunakan "kemampuan memilih " kita memilah milah informasi tersebut, serta bersiap siaga selalu untuk menghadapi kesengsaraan, kepedihan, dalam bentuk apapun itu, kecil maupun besar, semakin besar kesengsaraan yang kita hadapi, maka reward kita akan semakin bagus jika kita berhasil bersabar dan tetap pada jalan Allah.

Tanda-Tanda


Video berikut menceritakan tentang seorang mualaf asal Australia yang dibesarkan dari orang tua atheis yang sebelumnya kristen. Ia belajar semua agama kecuali Islam, image teroris pada Islam membuatnya tak peduli akan agama damai ini. Banyaknya permasalahan yang datang padanya membuat sang pemuda mulai bertanya-tanya akan makna kehidupan.

Back to Basic

Belajar agama itu tiada habisnya.Saya tidak pernah menyadari betapa pentingnya hal ini meskipun sejak dahulu mengetahui hal ini. Yap, tak kan pernah habis, dan indahnya tak kan pernah pernah kita bosan untuk kita gali dan tela'ah.

Di zaman yang serba terkoneksi seperti sekarang, sumber ilmu itu buanyak banget. Hanya daya kritis dan logis serta kesabaran , ketekunan dan mengesampingkan hawa nafsu membuat semuanya bisa terfilter dengan baik. Doa kita sebagai umat muslim "Tunjukilah kami jalan yang lurus" rasanya sudah cukup menjadi tameng bagi daya kritis dan logis untuk menentukan mana yang baik dan benar.

Hanya orang-orang yang merasa kepentingan mereka terganggu saja lah yang susah menerima, susah menentukan, dan malas untuk melakukan pengujian yang tidak mau melakukan re-search lebih mendalam tentang arti ISLAM.

Ada kalanya kita merasa bahwa apa yang kita yakini selama ini setelah dilakukan riset, kok tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, kok tidak logis. Maka merupakan kewajiban kita sebagai mahluk yang diciptakan di muka bumi ini untuk mencari kebenaran, untuk mencari hidayah, karenah toh kita ini hanyalah manusia yang memang tak kan pernah bisa lepas dari ke alpa-an.

Dasar kita adalah tidak ada Tuhan selain Allah, alias Tauhid. Dari sana lah harusnya kita mulai merangkak. Mungkin ada yang salah dengan diri kita ketika kita berbicara lalu kemudian ternyata pembicaraan kita menyakiti perasaan seseorang, kala itu kembalilah ke dasar. Kenapa kita memilih dasar itu.

setelah menemukan dasar, maka saatnay ber-Jihad, maka kita wajib melakukannya, bukan karena pengen ngebom sembarangan. Tapi jihad kita kali ini adalah mempertahankan apa yang sudah kita YAKIN-ni.

Saya serta merta merasa sedih, tatkala melihat orang-orang tersayang di sekeliling kita melakukan hal-hal yang tidak JIHAD. Ucapan serta tindakannya tidak sesuai dengan dasar yang harusnya mereka pegang teguh.

Yang paling sedih adalah tidak ada yang mampu saya perbuat untuk menghindari mereka melakukan  hal itu tanpa harus mencederai perasaan mereka. Terkecuali sedikit saja.

Dalam ISLAM, tidak ada yang abu-abu, semua harus serba hitam dan putih. Ketika sebuah Dasar kita jadikan abu-abu maka saatnya anda harus keluar dari situ. Karena tak ada orang yang suka dengan penjilat, terkecuali untuk mempertahankan keimanan kita.

Oleh karena kelemahan itulah maka tentunya saya pun harus kembali ke dasar yang sudah saya yakini. Mungkin ada yang perlu diperbaiki, konsep saya sebelumnya mungkin ada yang salah. Oleh karena itu belajar tak boleh putus, belajar adalah sebuah proses yang hanya putus saat nama kita sudah terpampang di batu nisan.


Membuat Email Sendiri

"Cep, bikinin email. Ada yang minta nih dari bank.."
"Wah, kak. Harus ada email nih, ajarin caranya."
"Lupa login facebook, aduh gimana nih!? Di Hack kali yah.."

Komentar seperti itu ada aja nyangkut di telinga. Rupanya di jaman dunia ada dalam genggaman tangan ini masih ada yang belum tau benar manfaat memiliki email.


Kirim barang pake Indah Cargo

Akhirnya status ku menjadi menunggu paketan dateng. Modal ngutank 2.5jt dari sana sini. Waduh-waduh... kok ngutang aja susah. Tau gini dulu duit gak dipake wat main-main dah. Well, pake aja ilmu BMT yang kemarin udah resign. Buka tabungan, kasi pembiayaan, buka deposito yo weis, dalam sebulan bisa terkumpul meski berdarah-darah terutama bini ane.. wkwkwkkw.. Lah ane ngapain? Ane kan IT, ya di depen komputer terus ha ha ha.. Jahatnya....

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More